Sabtu, 22 Agustus 2015

Dampak Psikologi Agama Pada Remaja

KATA PENGANTAR

                    Alhamdulillahirabbil’alamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah tuhan seru sekalian  alam atas segala berkat , rahmat, taufik serta hidayahnya yang tiada terkira besarnya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah  dengan judul Dampak Psikologi Agama Pada Remaja
                    Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Psikologi Agama di Konsentrasi Ilmu Dakwah pada UIN Ar  Raniry. Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya pada Bpk Prof. M. Nasir Budiman, M.Ag selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Agama
                    Akhirnya saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif  dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini .

                                                                                                            Sigli, 29 April 2015



                                                                                                  Penulis


                                                                                                Munzir, S.Kom.I














DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang…………………………………………………............................3
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………………3


BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Remaja…………………………………………………………………4
B.     Perkembangan Fisik dan Psikis Remaja…………………………………………...4
C.     Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja……………………………………5
D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Jiwa Remaja…………………6
E.     Metode Penanaman Nilai Agama Pada Remaja…………………………………...8


BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………………………12
B.     Analisa……………………………………………………………………….......13


DAFTAR PUSTAKA























BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Anak-anak yang berusia 12 atau 13 tahun sampai dengan 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya.Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja sehingga masa ini disebut orang barat sebagai periode sturm und drang.
Ada pula ahli psikologi yang menganggap masa remaja sebagai peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, yaitu saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa. Saat anak mengalami masa remajanya tidak sama waktunya di tiap-tiap Negara. Waktunya itu berbeda-beda menurut norma kedewasaan yang berlaku setempat; misalnya di daerah pedesaan yang agraris, anak usia 12 tahun sudah ikut melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa seperti membantu orang tuanya mengolah lading daan sawah. Dalam keadaan seperti ini berarti anak yang belum dewasa itu sudah dituntut oleh orang tuanya untuk bertanggung jawab. Sedangkan di daerah perkotaan masa remaja berlangsung lebih lama, sebab keadaan kehidupan di kota lebih kompleks dan lebih majemuk masyarakatnya yang terpengaruh dari berbagai latar belakang yang berbeda.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Remaja ?
2.      Bagaimana Perkembangan jiwa beragama pada remaja ?
3.      Apa Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jiwa beragama pada remaja ?
4.      Apa metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran jiwa beragama pada remaja?
C.    Tujuan
1.      Kita dapat mengetahui pengertian remaja
2.      Kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan jiwa beragama pada remaja
3.      Kita dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keadaan jiwa beragam pda remaja
4.      Kita dapat mengetahui metode apa saja yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran beragama pada remaja





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Remaja
Orang Barat menyebut dengan istilah pubertas[1], sedangkan orang Amerika menyebutnya adolesensi[2].Sedangkan di negara kita ada yang menggunakan istilah akil baligh[3], dan yang paling banyak menyebutnya remaja.Panggilan adolesensi dapat diartikan sebagai pemuda yang keadaannya sudah mengalami ketenangan.Pada umumnya orang tua dan pendidik cenderung menyebut remaja daripada remaja puber atau remaja adolesen.Bila ditinjau secara biologis, yang dimaksud remaja ialah mereka yang berusia 12 sampai dengan 21 tahun.Dan pada wanita dimulai ketika pertama kali mengalami menstruasi dan pada pria ketika pertama kali mengalami mimpi basah.
Bila ditinjau secara teoritis, masa remaja terdiri dari remaja puber dan remaja adolesen. Remaja puber itu sendiri masih dibagi-bagi lagi ke dalam awal pubertas, pubertas , dan akhir pubertas, sedangkan remaja adolesen terdiri dari awal adolesen, adolesen, akhir adolesen. Kemudian ada masa peralihan masa anak sekolah sebelum ia memasuki masa puber yang disebut masa plueral. Sebenarnya antara masa yang satu dengan masa yang lain tidak tampak batas-batasnya. Peralihan dari masa ke masa berikutnya hanya terjadi secara berangsur-angsur dengan tidak terasa[4].
Namun pada saat ini, usiapubertas terlihat lebih cepat. Waktu dari perubahan fisik yang terjadi pada saat pubertas merupakan pengaruh antara faktor genetika dan lingkungan. Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran keluarga, dan olahraga dapat mempengaruhi proses pubertas.
Kata Pubertas sendiri berasal dari bahasa kata pubescere[5].Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia juga tidak termasuk golongan dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa.Batas antara masa remaja dan masa dewasa makin lama juga semakin kabur. Pertama kali kerena sebagian para remaja yang tidak lagi melanjutkan sekolah dan kemudian akan bekerja dan dengan begitu ia akan memasuki dunia dewasa pada usia remajanya. Gadis-gadis yang menikah pada usia 18-19 tahun juga akan memasuki dunia orang dewasa. Kalau dalam keadaan ini maka dapat dikatakan sebagai masa remaja yang diperpendek, maka keadaan yang sebaliknya disebut sebagai masa remaja yang diperpanjang, yaitu bila orang sesudah remaja masih hidup bersama orang tuanya, masih belum mempunyai nafkah sendiri dan masih berada di bawah otoritas orang tunya hal semacam ini masih sangat banyak terjadi di Indonesia.[6]

B.       Perkembangan Fisik dan Psikis pada Remaja
a.    Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik mengalami perubahan dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak atau masa dewasa.Anak laki-laki mulai mengalami pembesaran biji pelir (scrotal/ testicular enlargement) pada awal usia 9 tahun yang diikuti bertambah panjangnya penis. Ukuran dan bentuk genital dewasa akan dicapai pada usia 16 sampai 17 tahun. Pada laki-laki, rambut pubis (seperti juga pada ketiak, kaki, dada dan wajah) akan mulai tumbuh pada usia 12 tahun dan mencapai pola distribusi seperti orang dewasa pada usia 15-16 tahun. Pertumbuhan tinggi yang cepat akan terjadi pada usia sekitar 10,5-11 tahun sampai 16-18 tahun, yang mencapai puncaknya sekitar 14 tahun. Perubahan suara yang terjadi sejalan dengan pertumbuhan penis, terjadinya ejakulasi dan puncak pertumbuhan tinggi badan.
Anak perempuan mulai mengalami pertumbuhan payudara pada awal usia 8 tahun dengan perkembangan penuh antara umur 12 sampai 18 tahun. Rambut pubis (seperti juga ketiak atau bulu kaki) umumnya mulai tumbuh pada usia  9-10 tahun dan mencapai distribusi seperti orang dewasa pada usia 13-14 tahun. Selain itu tulang pinggung melebar dan suara menjadi lebih lembut. Menstruasi yang pertama (menarche) terjadi sekitar 2 tahun setelah awal perubahan pubertas, dapat terjadi pada usia 10-15 tahun, dengan rata-rata 12.5 tahun. Pertumbuhan yang cepat pada tinggi badan akan terjadi antara usia sekitar 9.5 sampai 14.5 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 12 tahun[7].

b.      Perkembangan Psikis
1.      Cara Berpikir Kausalitas, yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat. Misalnya remaja yang duduk di depan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata “pantang[8]. Andaikan yang dilarang itu adalah anak kecil, pasti ia akan menuruti perintah orang tuanya, tetapi remaja yang dilarang itu akan mempertayankan mengapa ia tidak boleh duduk di depan pintu. Bila orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya itu, dan menganggap bahwa anak yang dinasihati nya itu melawan, lalu ia marah kepada anaknya, kemudian anak yang sedang menginjak usia remaja itu pasti akan melawannya. Sebab anak itu merasa dirinya sudah berstatus remaja, sedangkan orang tua suka memperlakukannya sebagai anak-anak yang bisa dibodoh-bodohi. Guru juga akan mendapat perlawanan bila ia tidak mengerti cara berfikir remaja yang kausaitas.
Remaja sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan apabila orang tua, guru, lingkungan maih menganggapnya sebagai anak kecil. Bila guru dan orang tidak memahami cara berfikir remaja, akibatnya timbullah kenakalan remaja perkelahian antar pelajar yang sering terjadi di kota-kota besar.
2.      Emosi yang meluap-meluap, keadaan emosi remaja masih labil kerena erat hubungan nya dengan hormone. Suatu saat ia bisa sedih sekali dan dilain waktu ia bisa bahagia sekali. Hal ini terlihat biasanya pada remaja yang baru saja mengalami putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya. Kalau sedang senang-senangnya mereka mudah lupa diri karena tidak mampu menahan emosi yang meluap-meluap itu bahkan remaja cendeung terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang oleh norma agama dan norma sosial. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran mereka yang realistis.
3.      Mulai tertarik pada lawan jenisnya, secara biologis anak perempuan lebih cepat matang daripada anak laki-laki. Gadis yang berusia 14 sampai dengan 18 lebih cenderung untuk tidak merasa puas dengan perhatian lawan jenis yang seusianya. Karena itu ia tertarik kepada pemuda yang usianya beberapa tahun diatasnya. Keadaan ini terus berlangsung sampai ia duduk di bangku kuliah. Pada masa itu akan terlihat pasangan muda-mudi yang pemudanya berusia lebih tua dari pada gadisnya.
4.      Menarik perhatian lingkungan, pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari lingkungannya, berusaha mendapatkan status dan peranan seperti kegiatan remaja di kampong. Misalnya mengumpulkan dana bantuan atau sumbangan, pasti ia akan berusahan menjalankan dengan sebaik-baiknya. Bila ia tidak diberi peranan maka ia akan melakukan perbuatan-perbuatan untuk menarik perhatian masyarakat. Bila perlu, melakukan perkelahian atau kenakalan lainnya.
5.      Terikat dengan kelompok, remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik dengan kepada kelompok sebayanya tidak jarang orang tuanya di nomor duakan sedangakan kelompoknya dinomorsatukan. Terkadang kelompok atau gang[9] tidak selalu memberikan contoh yang baik , akan tetapi pada dasarnya kelompok atau gang itu tidak berbahaya asal saja kita bisa mengarahkannya. Sebab dalam kelompok itu kaum remaja dapat memenuhi kebutuhannya, misalnya kebutuhan dimengerti, kebutuhan dianggap, kebutuhan diperlukan, kebutuhan diperhatikan, kebutuhan mencari pengalaman baru, kebutuhan penerimaan status, kebutuhan harga diri, rasa aman yang belum tentu dapat diperoleh ditempat lain baik itu di sekolah ataupun dirumah[10].


C.      Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja
Pengalaman keagamaanterdapat hubungan “aku” dengan “pencipta”, menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Mahaesa yang dipercayai dan diyakininya. Hal-hal keagamaan sudah mulai diajarkan sejak kecil di lingkungan rumah tangga. Tanpa banyak mengalami kesulitan anak-anak menerimanya saja karena mereka cara berpikirnya masih sederhana, tetapi bukan berarti bahwa kepercayaan dan ketakwaan anak terhadap Tuhan Yang Mahaesa hanya hasil bentukan lingkungan saja. Pendidikan keagamaan akan mempertajam pandangan untuk melihat gejala-gejala pertama dari perkembangan keagamaan yang sebenarnya. Segala sesuatu tetang keagamaan itu perlu diterangkan, misalnya sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama yang berbeda-beda karena hal ini merupakan dasar yang baik bagi pembentukan pandangan krtitis di kalangan remaja yang sedang berkembang.
Pada masa adolesen kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa dialami sendiri dengan sadar, misalnya waktu mengikuti upacara-upacara keagamaan yang membangkitkan suasana dan perasaan keagamaan yang membangkitkan suasana dan perasaan keagamaan itu. Tradisi dan kebiasaan keagamaan yang dilaksanakan dirumahnya sendiri, sering menjenuhkan bagi mereka sendiri karena :
a.       Adanya dogma[11] yang dianggapnya mengurangi kebebasan mendapatkan pengalaman religius yang dibutuhkannya.
b.      Menentang segala sesuatu yang berbau tradisi
c.       Ingin menjauhkan dirinya dari pengaruh orang dewasa

Seseorang yang pekerja kurang memperdulikan walaupun ada pertentangan batin dalam dirinya.Mereka ingin melepaskan diri dari pandangan religius yang ada pada masa kanak-kanaknya.Setelah mereka meninggalkan bangku sekolah, pengajaran mengenai agama itu tidak dilanjutkan.Sering lapangan pekerjaan tidak memberikan unsur-unsur lain sebagai pengganti pendidikan agama. Mungkin sebaliknya, suasana tempat ia bekerja malah merusak unsur-unsur keagamaanya tersebut.
Dari sisi lain disebabkan lingkungan kurang memperhatian kehidupan keagamaan. Walaupun ada anggapan bahwa kehidupan keagamaan remaja sebagian telah hilang, kita tidak perlu khawatir karena justru pada masa remaja bisa timbul hidup keagamaan yang sugguh-sungguh asalkan diberi bimbingan yang sehat.[12]
1)      Masalah Mati dan Kekekalan
Pada masa remaja telah dapat dipahami bahwa mati itu adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk yang bernyawa bahkan mati merupakan proses alamiah yang harus terjadi. Pemikiran mengenai mati sudah mulai mendalam dibandingkan pada masa anak-anak, namun mereka tidak dapat menghilangkan kegelisahan, dengan bentuk kegelisahan sebagai berikut :
1.      Takut berpisah dengan keluarga, hal ini bukan hanya terjadi pada masa anak-anak. Takut ditinggalkan oleh ibu atau bapak, bukan hanya takut karena akan kehilangan sandaran emosi, tapi yang lebih penting ialah takut menghadapi kesukaran-kesukaran yang akan datang di kemudian hari.[13]
2.      Takut dirinya akan mati karena :
a.       Berpisah dengan orang-orang yang disayangi dan khawatir meninggalkan mereka
b.      Rasa dosa atau takut akan hukuman akhirat
c.       Takut mati karena ambisinya. Memang pada masa remaja, ambisi[14] itu adalah salah satu ciri khasnya. Remaja lebih banyak khayalan dan cita-cita, serta rasa takut tidak akan tercapainya cita-citanya itu.
2)         Emosi dan Pengaruhnya Terhadap Kepercayaan agama
Sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam sikap dan tindak agama.Tidak ada satu sikap atau tindak agama seseorang yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya.Karena itu, dalam meneliti atau mempelajari perkembangan ilmu jiwa agama pada seseorang, perlu diperhtikan seluruh fungsi-fungsi jiwanya sebagai kebulatan.
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Diantara sebab-sebab atau sumber-sumber kegoncangan emosi pada remaja, adalah konflik ata pertentangan yang terjadi pada remaja dalam kehidupan.
Diantara konflik yang membingungkan dan mengelisahkan remaja ialah, jika mereka merasa atau mengetahui adanya pertentangan ajaran agama dan ilmu pengetahuan, maka remaja akan gelisah dan mungkin akan menggoncangkan keyakinannya yang telah tertanam itu. Diantara konflik atau pertentangan yang terjadi dalam remaja ialah adanya dorongan –dorongan sex. Menurut Kinsey, seorang psikolog asal Amerika berpendapat bahwa doronan sex itu telah menyebabkan ± 90% dari remaja Amerika melakukan perbuatan onani. Di Negara-negara yang agamanya kuat, berbuat onani itu, sering kali menyebabkan para remaja  menjadi gelisah, kegelisahan ini yang membuat gelombang-gelombang keyakinan terhadap mereka, kadang menjadi rajin shalat, ata berdoa kepada Allah.tapi kadang ia menjadi putus asah dan menjadi acuh kepada agama. Apabila kita tahu bahwa masa remaja adalah masa yang tidak stabil emosinya dimana perasaan sering tidak tentram, maka keyakinanpun akan kelihatan maju mundur (ambivalen) dan pandangannya terhadap tuhan akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya. Dalam hal ini kita dapat mengetahui bagaimana pendapat remaja tentang :
a.       Sifat-sifat Tuhan
Apabila seorang menyebutkan nama sifat-sifat Tuhan, hal ini tidak timbul dari keyakinannya yang telah tetap, akan timbul dari sikap emosi dan keadaan jiwanya pada waktu itu.

b.      Perasaan Agama yang kembar (ambivalen)
Keyakinan akan sifat tuhan yang banyak itu berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya, dan ia mengalami keyakinan yang maju mundur. Kadang terasa sekali olehnya keyakinan kepada tuhan, terasa dekat, seolah-olah dia berdialog langsung keoada tuhan. Tapi terkadang ia merasa jauh, tidak dapat memusatkan pikiran waktu bertdoa atau sembahyang. Kondisi keimanan yang yang kembar (maju-mundur) itu adalah satu ciri khas remaja, yang sedang mengalami kegoncangan emosi.
  
3)      Perkembangan Moral dan Hubungannya dengan Agama
Agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral seseorang. Tapi harus diingat bahwa pengertian tentang agama, tidak otomatis sama dengan bermoral. Betapa banyak orang yang mengerti agama, tapi moralnya merosot. Dan tidak sedikit pula orang yang tidak mengerti agama sama sekali, tapi moralnya cukup baik.

Oleh sebab itu, seorang peneliti ilmu jiwa agama harus mempelajari pula dinamika dan perkembangan moral, supaya dapat memahami bagaimana peranan agama dalam moral, dan agama itu dapat menjadi pengendali moral. kita akan melihat betapa erat hubungan agama dengan ibadah-ibadah dan moral. Untuk lebih jelas, dapat kita lihat sangkut paut keyakinan beragama dengan moral remaja terutama dalam masalah-masalah berikut :

a.       Tuhan sebagai Penolong Moral
Tuhan bagi seorang remaja adalah keharusan moral, pada masa remaja itu, Tuhan lebih menonjol sebagai penolong moral, daripada sandaran emosi.Andaikata kadang-kadang pikiran pada masa remaja itu berontak dan ingin mengingkari ujud Allah, atau ragu-ragu kepadanya, namun tetap ada suatu hal yang menghubungkan dengan Allah yaitu kebutuhannya untuk mengendalikannya moral.

b.       Pengertian Surga dan Neraka.
Kebanyakan remaja memikirkan alam lain, bukanlah untuk tempat senang-senang atau tempat siksaan jasmani, akan tetapi sebagai lambang bagi pikiran pembalasan atau lambing kebahagiaan yang ingin dicapainya dan terlepas dari kegoncangan remaja yang tidak menyenangkan itu.

c.       Pengertian tentang Malaikat dan Setan.
Mereka sadar betapa erat hubungan setan dengan malaikat itu dengan dirinya,mereka menyadari adanya hubungan yang erat antara setan dengan dorongan jahat yang ada dalam dirinya, dan hubungan dengan malaikat dengan moral dan keindahannya yang ideal, demikian pula hubungan surga deengan ketentraman batin dan kekuasaan yang baik, juga antara neraka dengan ketenangan batin dan hukuman-hukuman atas dosa.

4)      Kedudukan Remaja dalam Masyarakat dan pengaruhnya Terhadap keyakinannya.

Sikap atau perlakuan Masyarakat yang kurang memberikan kedudukan yang jelas bagi remaja itu, sering kali mempertajam rasa konflik yang sebenarnya telah ada pada remaja, mereka mengharapkan bimbingan dan kepercayaan orang dewasa, terutama keluarganya, tapi di lain pihak mereka ingin bebas, terlepas dari kekuasaan dan kritikan-kritikan orang dewasa, mereka akan mencari orang-orang lain yang dapat merek jadikan teladan atau pahlawan (hero), sebagai pengganti orang tua atau orang-orang yang biasa menasihati mereka. Seandainya yang menjadi hero tersebut baik, maka pengaruhnya juga baik tapi kalau ia tidak baik, maka pengaruhnya juga kurang baik.

Kecenderungan seorang remaja untuk ikut aktif dalam kegiatan agama sebenarnya ada dan dapat dipupuk, asal lembaga keagamaan tersebut dapat mengikut sertakan remaja dan member kedudukan yang pasti kepada mereka. Kebijaksanaan pemimpin agama yang dapat menyadari bahwa remaja mempunyai dorongan dan kebutuhan social yang perlu dipenuhi, akan dapat menggerakan remaja itu ikut aktif dalam agama.

D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Keberagamaan pada Remaja
Jiwa Keagamaan kita juga mengalami proses perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dengan demikian jiwa keagamaan tidak luput dari berbagai gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya. Adapun berbagai macam pengaruh terhadap perkembangan seseorang secara garis besar dibagi menjadi pengaruh dari dalam (intern) dan pengaruh dari dalam (ekstern)
     Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang :
1.      Faktor Intern
a.      Kondisi Kejiwaan : Seseorang yang mengidap schizophrenia[15] akan mengisolasi diri dari kehidupan sosial di sekitarnya serta presepsinya tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi. Hal yang sama berlaku pula pada pengidap Phobia[16] ia akan dicekam oleh rasa takut yang irasional. Sedangkan penderita infatil autism[17] akan berprilaku seperti anak-anak karena, perkembangan dirinya akan tetap seperti anak-anak meskipun usia nya sudah memasuki masa remaja atau dewasa
b.      Kepribadian : Dalam kondisi normal secara individu manusia memiliki berbagai macam perbedaan dalam kepribadiannya dan perbedaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Selain itu banyaknya gangguang kepribadian yang salah satunya adalah berkepribadian ganda akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaannya terutama pengembangan dalam keagamaan.
c.       Faktor Kognitif :  mengacu pada remaja-remaja yang cara berfikirnya masih abstrak dan menerima apapun informasi yang sampai kepadanya tanpa mengolahnya. Mereka hanya mengkaji sesuatu hanya berdasarkan dasar-dasar yang ada tanpa mendalaminya.
d.      Faktor Hereditas : perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah bagi orang yang melakukannya. Bila yang dilakukannya adalah sebuah pelanggaran agama, maka akan timbul perasaan berdosa dan perasaan seperti inilah yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya.
e.       Faktor Personal : Faktor dari dalam diri seseorang yang sedang mencari identitas dirinya dan perkembangan jiwa nya.
f.       Tingkat Usia : Pada usia remaja saat mereka menginjak usia kematangan seksual yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan mereka. Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung mempengaruhi terjadinya konversi agama[18]. Bahkan pada usia adolesensi sebagai rentang umur tipikal terjadinya konversi agama meskipun konversi cenderung dinilai sebagai produk sugesti dan bukan akibat dari perkembangan kehidupan spiritual seseorang.

2.      Faktor Ekstern
a.      Lingkungan Keluarga : Konsep Father Image[19](citra kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan pada dirinya berkembang dari citra ayahnya . Lingkungan  keluarga menjadi Fase sosialisasi awal bagi terbentuknya jiwa keagamaan. Lingkungan keluarga menjadi factor ekstern yang dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan dalam diri individu. Maka dari itu keluarga menjadi penting untuk proses pembentukan sikap pribadi, perbuatan yang akan dilakukan individu sehari-hari diluar lingkungan keluarganya.
b.      Lingkungan Institusional : Bukan hanya lingkungan keluarga yang dapat berpengaruh akan tetapi ada lingkungan Institusional yang mempengaruhi perkembangan jiwa kegamaan antara lain dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi, hubungan guru dan murid serta hubungan antar teman dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh sebab pada prinsipnya perkembangan jiwa keagaman tidak dapat dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
c.       Lingkungan Masyarakat :Lingkungan yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keberagamaan sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan. Keadaan seperti ini akan berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan pada warganya.[20]

E.       Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama pada Remaja
Ada banyak metode-metode yang dapat digunakan untuk membentuk nilai-nilai keagamaan pada Remaja[21], antara lain :
1.      Metode Penanaman Nilai Agama Sejak Dini
Rasulullah bersabda bahwa setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikan dia majusi[22], nasrani atau yahudi. Jadi jika anak ditanamkan nilai agama sejak dini maka ketika dia menginjak usia remaja akan memiliki aqidah agama yang kuat apabila lingkungan sekitarnya terutama orang tua memberikan stimulus positif. Ketika dia menginjak usia dewasa maka dia akan lebih mantap pada aqidah agama yang dipeluknya.
2.      Metode Penanaman Nilai Agama pada pembiasaan diri
Setiap orang pasti memiliki kebiasaan yang dilakukannya secara terus menerus dan tanpa disadari sehingga kadang-kadang orang berpikir mengapa melakukan kegiatan itu sedangkan dalam pikirannya tidak ada niatan untuk melakukan kegiatan itu.Jadi bagaimana membiasakan kebiasaan yang positif, hal ini dapat dilakukan apabila lingkungan sekitar terutama orang tua menanamkan nilai-nilai positif sejak dini sehingga hal itu dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
3.      Metode Penanaman Nilai Agama Lewat Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik dari ungkapan ini dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang itu pasti memiliki pengalaman yang berbeda dari pengalaman tersebut metode ini mencoba menanamkan nilai-nilai agama lewat pengalaman. Orang yang ceroboh pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya dan seorang muslim sejati tidak akan terjeremus pada lobang yang sama.






































BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Anak-anak yang berusia 12 atau 13 tahun sampai dengan 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya.Perubahan Psikis dan fisik harus selalu dikontrol oeh kedua orang tua atau lingkungan nya pada masa ini remaja mulai merubah pola pikir nya. Factor yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya secara garis besar dibagi menjadi factor yang datang dari dalam dan factor yang datang dari luar, antara lain : tingkat usia, kepribadian, factor kognitif, factor hereditas, factor kejiwaan dan factor personal. Sedangkan yang datang dari luar ada lingkungan keluarga, institusional, dan masyarakat.

B.     Analisa
Menurut saya memahami remaja itu tidak sulit akan tetapi ada dimana saat mood[23]yang dimiliki anak remaja itu baik. Terkadang dalam perkembangan keagamaan banyak dari remaja sekarang ini cenderung pola pikir nya mulai berubah mereka lebih banyak mengedepankan mood mereka dalam menjalankan ibadah-ibadah proses keagamaan.
lingkungan keluarga menjadi awal dalam sosialisasi individu kedepannya, walaupun banyak faktor-faktor dari dalam dirinya akan tetapi jika pembentukan dari kedua orang tua dan kejadian apapun yang dilihat nya dilingkungan sekitar dan bertolak belakang dengan hal yang sesungguhnya diinginkannya nya maka pada akhirnya cepat atau lambat otak nya akan menstimulus atau membentuk semua itu dalam memori ingatan nya. Remaja yang keadaan jiwa nya sedang terganggu akan berusaha mencari seseorang yang paling tidak dapat mendengar keluh kesah nya. Nasib baik ketika orang itu menunjukkan jalan yang baik untuk nya. Lalu bagaimana ketika orang itu bermaksud lain ?maka dari itu dengan berbagai macam metode yang ada diharapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang beriman, bertaqwa, kuat dan tangguh dalam menghadapi segala permasalahan nya kelak dan kedepan nya. Semoga kita semua menjadi pribadi yang mampu menghadapi berbagai permasalahan dengan baik tanpa harus terjerumus di tempat yang tidak layak dan tidak kita inginkan nantinya.





DAFTAR PUSTAKA

Ailah B Purwakania Hasan. Psikologi Perkembangan Islami. Rajagrafindo Persada. Jakarta 2006

Bambang, Syamsul Arifin. Psikologi Agama. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008

Darajat,Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. 1996. Jakarta: Bulan Bintang.
Rahayu Siti. Psikologi Perkembangan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta 2006
Syaikh M jamaluddin.Psikologi Anak dan Remaja Muslim.Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2009
Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 ,



[1]Masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual
[2] (Lat. Adolescere = adultus = perkembangan menjadi dewasa)
[3] Masa dimana seseorang telah dianggap bisa membedakan baik dan buruk menurut agama Islam
[4] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 64
[5] Bahasa Latin dari kata pubertas yang artinya menjadi berbulu
[6] Siti Rahayu Haditomo, psikologi perkembangan, Gajah mada University Press, Yogyakarta 2006, Cet XVI hlm   261
[7] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 65
[8] Suatu alasan yang biasa diberikan orang-orang tua di daerah Sumatera secara turun temurun
[9]salah satu dari kelompok sosial yang dapat tercipta dalam lingkungan sekolah,lingkungan masyarakat dan lingkungan yang lain
[10]Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 66
[11]suatu keyakinan terhadap sesuatu yang tidak boleh dirubah oleh adanya akal rasio atau pendapat / ide-ide manusia
[12] Syaikh M jamaluddin, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2009 hlm 34
[13]Darajat,Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. 1996. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm 89
[14]keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan)
[15] penyakit mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan respon emosional yang buruk
[16] Suatu ketakutan yang berlebihan pada sesuatu
[17] gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri
[18]Perubahan agama yang selama ini dianut
[19]Teori Perkembangan yang dikemukakan oleh Sigmund Freud

[20]Bambang, Syamsul Arifin, Psikologi Agama, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008.hlm .76-85
[21]Darajat,Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. 1996. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm  73-74
[22] Suatu agama atau kepercayaan yang mengagungkan api sebagai sembahan

[23] keadaan emosional yang bersifat sementara, bisa berlangsung sebentar ataupun cukup lama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar