KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin, banyak nikmat yang Allah berikan,
tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah
tuhan seru sekalian alam atas segala
berkat , rahmat, taufik serta hidayahnya yang tiada
terkira besarnya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Dampak Psikologi Agama
Pada Remaja”
Makalah
ini merupakan salah satu tugas mata
kuliah Psikologi Agama di Konsentrasi Ilmu Dakwah pada UIN Ar Raniry. Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya pada Bpk Prof. M. Nasir Budiman, M.Ag selaku dosen pembimbing mata
kuliah Psikologi Agama
Akhirnya saya menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini .
Sigli, 29 April
2015
Penulis
Munzir, S.Kom.I
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang…………………………………………………............................3
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Remaja…………………………………………………………………4
B.
Perkembangan
Fisik dan Psikis Remaja…………………………………………...4
C.
Perkembangan
Jiwa Keagamaan Pada Remaja……………………………………5
D.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Jiwa Remaja…………………6
E.
Metode Penanaman
Nilai Agama Pada Remaja…………………………………...8
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………………12
B.
Analisa……………………………………………………………………….......13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anak-anak yang berusia
12 atau 13 tahun sampai dengan 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami
masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa
ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya.Terjadinya
perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja sehingga masa ini
disebut orang barat sebagai periode sturm
und drang.
Ada pula ahli psikologi
yang menganggap masa remaja sebagai peralihan dari masa anak-anak menuju masa
dewasa, yaitu saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai
anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan
orang dewasa. Saat anak mengalami masa remajanya tidak sama waktunya di
tiap-tiap Negara. Waktunya itu berbeda-beda menurut norma kedewasaan yang
berlaku setempat; misalnya di daerah pedesaan yang agraris, anak usia 12 tahun
sudah ikut melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa
seperti membantu orang tuanya mengolah lading daan sawah. Dalam keadaan seperti
ini berarti anak yang belum dewasa itu sudah dituntut oleh orang tuanya untuk
bertanggung jawab. Sedangkan di daerah perkotaan masa remaja berlangsung lebih
lama, sebab keadaan kehidupan di kota lebih kompleks dan lebih majemuk
masyarakatnya yang terpengaruh dari berbagai latar belakang yang berbeda.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa itu Remaja ?
2. Bagaimana Perkembangan jiwa beragama
pada remaja ?
3. Apa Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi jiwa beragama pada remaja ?
4. Apa metode yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kesadaran jiwa beragama pada remaja?
C.
Tujuan
1. Kita dapat mengetahui pengertian remaja
2. Kita dapat mengetahui bagaimana
perkembangan jiwa beragama pada remaja
3. Kita dapat mengetahui faktor-faktor apa
saja yang dapat mempengaruhi keadaan jiwa beragam pda remaja
4. Kita dapat mengetahui metode apa saja
yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran beragama pada remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Remaja
Orang Barat menyebut
dengan istilah pubertas[1],
sedangkan orang Amerika menyebutnya adolesensi[2].Sedangkan
di negara kita ada yang menggunakan istilah akil
baligh[3],
dan yang paling banyak menyebutnya remaja.Panggilan adolesensi dapat
diartikan sebagai pemuda yang keadaannya sudah mengalami ketenangan.Pada
umumnya orang tua dan pendidik cenderung menyebut remaja daripada remaja puber
atau remaja adolesen.Bila ditinjau secara biologis, yang dimaksud remaja ialah
mereka yang berusia 12 sampai dengan 21 tahun.Dan pada wanita dimulai ketika
pertama kali mengalami menstruasi dan pada pria ketika pertama kali mengalami
mimpi basah.
Bila ditinjau secara
teoritis, masa remaja terdiri dari remaja puber dan remaja adolesen. Remaja
puber itu sendiri masih dibagi-bagi lagi ke dalam awal pubertas, pubertas , dan
akhir pubertas, sedangkan remaja adolesen terdiri dari awal adolesen,
adolesen, akhir adolesen. Kemudian ada masa peralihan masa anak
sekolah sebelum ia memasuki masa puber yang disebut masa plueral.
Sebenarnya antara masa yang satu dengan masa yang lain tidak tampak
batas-batasnya. Peralihan dari masa ke masa berikutnya hanya terjadi secara
berangsur-angsur dengan tidak terasa[4].
Namun
pada saat ini, usiapubertas terlihat lebih cepat. Waktu dari perubahan
fisik yang terjadi pada saat pubertas merupakan pengaruh antara faktor
genetika dan lingkungan. Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran
keluarga, dan olahraga dapat mempengaruhi proses pubertas.
Kata Pubertas
sendiri berasal dari bahasa kata pubescere[5].Anak
remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.Ia tidak termasuk golongan
anak, tetapi ia juga tidak termasuk golongan dewasa atau golongan tua. Remaja
ada diantara anak dan orang dewasa.Batas antara masa remaja dan masa dewasa
makin lama juga semakin kabur. Pertama kali kerena sebagian para remaja yang
tidak lagi melanjutkan sekolah dan kemudian akan bekerja dan dengan begitu ia
akan memasuki dunia dewasa pada usia remajanya. Gadis-gadis yang menikah pada
usia 18-19 tahun juga akan memasuki dunia orang dewasa. Kalau dalam keadaan ini
maka dapat dikatakan sebagai masa remaja yang diperpendek, maka keadaan yang
sebaliknya disebut sebagai masa remaja yang diperpanjang, yaitu bila orang
sesudah remaja masih hidup bersama orang tuanya, masih belum mempunyai nafkah
sendiri dan masih berada di bawah otoritas orang tunya hal semacam ini masih
sangat banyak terjadi di Indonesia.[6]
B. Perkembangan Fisik dan Psikis
pada Remaja
a.
Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik
mengalami perubahan dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa
anak-anak atau masa dewasa.Anak laki-laki mulai mengalami pembesaran biji pelir
(scrotal/ testicular enlargement) pada awal usia 9 tahun yang diikuti
bertambah panjangnya penis. Ukuran dan bentuk genital dewasa akan dicapai pada
usia 16 sampai 17 tahun. Pada laki-laki, rambut pubis (seperti juga pada
ketiak, kaki, dada dan wajah) akan mulai tumbuh pada usia 12 tahun dan mencapai
pola distribusi seperti orang dewasa pada usia 15-16 tahun. Pertumbuhan tinggi
yang cepat akan terjadi pada usia sekitar 10,5-11 tahun sampai 16-18 tahun,
yang mencapai puncaknya sekitar 14 tahun. Perubahan suara yang terjadi sejalan
dengan pertumbuhan penis, terjadinya ejakulasi dan puncak pertumbuhan tinggi
badan.
Anak perempuan mulai
mengalami pertumbuhan payudara pada awal usia 8 tahun dengan perkembangan penuh
antara umur 12 sampai 18 tahun. Rambut pubis (seperti juga ketiak atau bulu
kaki) umumnya mulai tumbuh pada usia
9-10 tahun dan mencapai distribusi seperti orang dewasa pada usia 13-14
tahun. Selain itu tulang pinggung melebar dan suara menjadi lebih lembut.
Menstruasi yang pertama (menarche) terjadi sekitar 2 tahun setelah awal
perubahan pubertas, dapat terjadi pada usia 10-15 tahun, dengan rata-rata 12.5
tahun. Pertumbuhan yang cepat pada tinggi badan akan terjadi antara usia
sekitar 9.5 sampai 14.5 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 12 tahun[7].
b.
Perkembangan Psikis
1. Cara
Berpikir Kausalitas, yaitu menyangkut
hubungan sebab dan akibat. Misalnya remaja yang duduk di depan pintu, kemudian
orang tua melarangnya sambil berkata “pantang”[8].
Andaikan yang dilarang itu adalah anak kecil, pasti ia akan menuruti perintah
orang tuanya, tetapi remaja yang dilarang itu akan mempertayankan mengapa ia
tidak boleh duduk di depan pintu. Bila orang tua tidak mampu menjawab
pertanyaan anaknya itu, dan menganggap bahwa anak yang dinasihati nya itu
melawan, lalu ia marah kepada anaknya, kemudian anak yang sedang menginjak usia
remaja itu pasti akan melawannya. Sebab anak itu merasa dirinya sudah berstatus
remaja, sedangkan orang tua suka memperlakukannya sebagai anak-anak yang bisa
dibodoh-bodohi. Guru juga akan mendapat perlawanan bila ia tidak mengerti cara
berfikir remaja yang kausaitas.
Remaja sudah mulai berfikir kritis
sehingga ia akan melawan apabila orang tua, guru, lingkungan maih menganggapnya
sebagai anak kecil. Bila guru dan orang tidak memahami cara berfikir remaja,
akibatnya timbullah kenakalan remaja perkelahian antar pelajar yang sering
terjadi di kota-kota besar.
2. Emosi
yang meluap-meluap, keadaan emosi remaja
masih labil kerena erat hubungan nya dengan hormone. Suatu saat ia bisa sedih
sekali dan dilain waktu ia bisa bahagia sekali. Hal ini terlihat biasanya pada
remaja yang baru saja mengalami putus cinta atau remaja yang tersinggung
perasaannya. Kalau sedang senang-senangnya mereka mudah lupa diri karena tidak
mampu menahan emosi yang meluap-meluap itu bahkan remaja cendeung terjerumus ke
dalam hal-hal yang dilarang oleh norma agama dan norma sosial. Emosi remaja
lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran mereka yang
realistis.
3. Mulai
tertarik pada lawan jenisnya, secara biologis anak
perempuan lebih cepat matang daripada anak laki-laki. Gadis yang berusia 14
sampai dengan 18 lebih cenderung untuk tidak merasa puas dengan perhatian lawan
jenis yang seusianya. Karena itu ia tertarik kepada pemuda yang usianya
beberapa tahun diatasnya. Keadaan ini terus berlangsung sampai ia duduk di bangku
kuliah. Pada masa itu akan terlihat pasangan muda-mudi yang pemudanya berusia
lebih tua dari pada gadisnya.
4. Menarik
perhatian lingkungan, pada masa ini remaja
mulai mencari perhatian dari lingkungannya, berusaha mendapatkan status dan
peranan seperti kegiatan remaja di kampong. Misalnya mengumpulkan dana bantuan
atau sumbangan, pasti ia akan berusahan menjalankan dengan sebaik-baiknya. Bila
ia tidak diberi peranan maka ia akan melakukan perbuatan-perbuatan untuk
menarik perhatian masyarakat. Bila perlu, melakukan perkelahian atau kenakalan
lainnya.
5. Terikat
dengan kelompok, remaja dalam kehidupan sosial
sangat tertarik dengan kepada kelompok sebayanya tidak jarang orang tuanya di
nomor duakan sedangakan kelompoknya dinomorsatukan. Terkadang kelompok atau gang[9]
tidak selalu memberikan contoh yang baik , akan tetapi pada dasarnya kelompok
atau gang itu tidak berbahaya asal saja kita bisa mengarahkannya. Sebab dalam
kelompok itu kaum remaja dapat memenuhi kebutuhannya, misalnya kebutuhan
dimengerti, kebutuhan dianggap, kebutuhan diperlukan, kebutuhan diperhatikan,
kebutuhan mencari pengalaman baru, kebutuhan penerimaan status, kebutuhan harga
diri, rasa aman yang belum tentu dapat diperoleh ditempat lain baik itu di
sekolah ataupun dirumah[10].
C.
Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja
Pengalaman
keagamaanterdapat hubungan “aku” dengan “pencipta”, menyangkut hubungan pribadi
dengan Tuhan Yang Mahaesa yang dipercayai dan diyakininya. Hal-hal keagamaan
sudah mulai diajarkan sejak kecil di lingkungan rumah tangga. Tanpa banyak
mengalami kesulitan anak-anak menerimanya saja karena mereka cara berpikirnya
masih sederhana, tetapi bukan berarti bahwa kepercayaan dan ketakwaan anak
terhadap Tuhan Yang Mahaesa hanya hasil bentukan lingkungan saja. Pendidikan keagamaan
akan mempertajam pandangan untuk melihat gejala-gejala pertama dari
perkembangan keagamaan yang sebenarnya. Segala sesuatu tetang keagamaan itu
perlu diterangkan, misalnya sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara
pemeluk agama yang berbeda-beda karena hal ini merupakan dasar yang baik bagi
pembentukan pandangan krtitis di kalangan remaja yang sedang berkembang.
Pada
masa adolesen kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa dialami
sendiri dengan sadar, misalnya waktu mengikuti upacara-upacara keagamaan yang
membangkitkan suasana dan perasaan keagamaan yang membangkitkan suasana dan
perasaan keagamaan itu. Tradisi dan kebiasaan keagamaan yang dilaksanakan
dirumahnya sendiri, sering menjenuhkan bagi mereka sendiri karena :
a. Adanya dogma[11]
yang dianggapnya mengurangi kebebasan mendapatkan pengalaman religius yang
dibutuhkannya.
b. Menentang segala sesuatu yang berbau
tradisi
c. Ingin menjauhkan dirinya dari pengaruh
orang dewasa
Seseorang
yang pekerja kurang memperdulikan walaupun ada pertentangan batin dalam
dirinya.Mereka ingin melepaskan diri dari pandangan religius yang ada pada masa
kanak-kanaknya.Setelah mereka meninggalkan bangku sekolah, pengajaran mengenai
agama itu tidak dilanjutkan.Sering lapangan pekerjaan tidak memberikan
unsur-unsur lain sebagai pengganti pendidikan agama. Mungkin sebaliknya,
suasana tempat ia bekerja malah merusak unsur-unsur keagamaanya tersebut.
Dari
sisi lain disebabkan lingkungan kurang memperhatian kehidupan keagamaan.
Walaupun ada anggapan bahwa kehidupan keagamaan remaja sebagian telah hilang,
kita tidak perlu khawatir karena justru pada masa remaja bisa timbul hidup
keagamaan yang sugguh-sungguh asalkan diberi bimbingan yang sehat.[12]
1) Masalah Mati dan Kekekalan
Pada masa remaja telah dapat
dipahami bahwa mati itu adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap
makhluk yang bernyawa bahkan mati merupakan proses alamiah yang harus terjadi.
Pemikiran mengenai mati sudah mulai mendalam dibandingkan pada masa anak-anak,
namun mereka tidak dapat menghilangkan kegelisahan, dengan bentuk kegelisahan
sebagai berikut :
1. Takut berpisah dengan keluarga, hal ini
bukan hanya terjadi pada masa anak-anak. Takut ditinggalkan oleh ibu atau
bapak, bukan hanya takut karena akan kehilangan sandaran emosi, tapi yang lebih
penting ialah takut menghadapi kesukaran-kesukaran yang akan datang di kemudian
hari.[13]
2. Takut dirinya akan mati karena :
a. Berpisah dengan orang-orang yang
disayangi dan khawatir meninggalkan mereka
b. Rasa dosa atau takut akan hukuman
akhirat
c. Takut mati karena ambisinya. Memang pada
masa remaja, ambisi[14]
itu adalah salah satu ciri khasnya. Remaja lebih banyak khayalan dan cita-cita,
serta rasa takut tidak akan tercapainya cita-citanya itu.
2)
Emosi dan
Pengaruhnya Terhadap Kepercayaan agama
Sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam sikap dan tindak
agama.Tidak ada satu sikap atau tindak agama seseorang yang dapat dipahami,
tanpa mengindahkan emosinya.Karena itu, dalam meneliti atau mempelajari
perkembangan ilmu jiwa agama pada seseorang, perlu diperhtikan seluruh
fungsi-fungsi jiwanya sebagai kebulatan.
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam perasaan yang
kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Diantara sebab-sebab atau
sumber-sumber kegoncangan emosi pada remaja, adalah konflik ata pertentangan yang
terjadi pada remaja dalam kehidupan.
Diantara konflik yang membingungkan dan mengelisahkan remaja ialah,
jika mereka merasa atau mengetahui adanya pertentangan ajaran agama dan ilmu
pengetahuan, maka remaja akan gelisah dan mungkin akan menggoncangkan
keyakinannya yang telah tertanam itu. Diantara konflik atau pertentangan yang
terjadi dalam remaja ialah adanya dorongan –dorongan sex. Menurut Kinsey,
seorang psikolog asal Amerika berpendapat bahwa doronan sex itu telah
menyebabkan ± 90% dari remaja Amerika melakukan perbuatan onani. Di
Negara-negara yang agamanya kuat, berbuat onani itu, sering kali menyebabkan
para remaja menjadi gelisah, kegelisahan ini yang membuat
gelombang-gelombang keyakinan terhadap mereka, kadang menjadi rajin shalat, ata
berdoa kepada Allah.tapi kadang ia menjadi putus asah dan menjadi acuh kepada
agama. Apabila kita tahu bahwa masa remaja adalah masa yang tidak stabil
emosinya dimana perasaan sering tidak tentram, maka keyakinanpun akan kelihatan
maju mundur (ambivalen) dan pandangannya terhadap tuhan
akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya. Dalam hal ini kita dapat
mengetahui bagaimana pendapat remaja tentang :
a.
Sifat-sifat
Tuhan
Apabila seorang menyebutkan nama sifat-sifat Tuhan, hal ini tidak timbul dari
keyakinannya yang telah tetap, akan timbul dari sikap emosi dan keadaan jiwanya pada
waktu itu.
b.
Perasaan
Agama yang kembar (ambivalen)
Keyakinan
akan sifat tuhan yang banyak itu berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya,
dan ia mengalami keyakinan yang maju mundur. Kadang terasa sekali olehnya
keyakinan kepada tuhan, terasa dekat, seolah-olah dia berdialog langsung keoada
tuhan. Tapi terkadang ia merasa jauh, tidak dapat memusatkan pikiran waktu
bertdoa atau sembahyang. Kondisi keimanan yang yang kembar (maju-mundur) itu
adalah satu ciri khas remaja, yang sedang mengalami kegoncangan emosi.
3)
Perkembangan
Moral dan Hubungannya dengan Agama
Agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral seseorang.
Tapi harus diingat bahwa pengertian tentang agama, tidak otomatis sama dengan
bermoral. Betapa banyak orang yang mengerti agama, tapi moralnya merosot. Dan
tidak sedikit pula orang yang tidak mengerti agama sama sekali, tapi moralnya
cukup baik.
Oleh sebab itu, seorang peneliti ilmu jiwa agama harus mempelajari
pula dinamika dan perkembangan moral, supaya dapat memahami bagaimana peranan
agama dalam moral, dan agama itu dapat menjadi pengendali moral. kita akan
melihat betapa erat hubungan agama dengan ibadah-ibadah dan moral. Untuk lebih
jelas, dapat kita lihat sangkut paut keyakinan beragama dengan moral remaja
terutama dalam masalah-masalah berikut :
a.
Tuhan
sebagai Penolong Moral
Tuhan
bagi seorang remaja adalah keharusan moral, pada masa remaja itu, Tuhan lebih
menonjol sebagai penolong moral, daripada sandaran emosi.Andaikata
kadang-kadang pikiran pada masa remaja itu berontak dan ingin mengingkari ujud
Allah, atau ragu-ragu kepadanya, namun tetap ada suatu hal yang menghubungkan
dengan Allah yaitu kebutuhannya untuk mengendalikannya moral.
b.
Pengertian
Surga dan Neraka.
Kebanyakan
remaja memikirkan alam lain, bukanlah untuk tempat senang-senang atau tempat
siksaan jasmani, akan tetapi sebagai lambang bagi pikiran pembalasan atau
lambing kebahagiaan yang ingin dicapainya dan terlepas dari kegoncangan remaja
yang tidak menyenangkan itu.
c.
Pengertian
tentang Malaikat dan Setan.
Mereka
sadar betapa erat hubungan setan dengan malaikat itu dengan dirinya,mereka
menyadari adanya hubungan yang erat antara setan dengan dorongan jahat yang ada
dalam dirinya, dan hubungan dengan malaikat dengan moral dan keindahannya yang
ideal, demikian pula hubungan surga deengan ketentraman batin dan kekuasaan
yang baik, juga antara neraka dengan ketenangan batin dan hukuman-hukuman atas
dosa.
4)
Kedudukan
Remaja dalam Masyarakat dan pengaruhnya Terhadap keyakinannya.
Sikap atau perlakuan Masyarakat yang kurang memberikan kedudukan
yang jelas bagi remaja itu, sering kali mempertajam rasa konflik yang
sebenarnya telah ada pada remaja, mereka mengharapkan bimbingan dan kepercayaan
orang dewasa, terutama keluarganya, tapi di lain pihak mereka ingin bebas,
terlepas dari kekuasaan dan kritikan-kritikan orang dewasa, mereka akan mencari
orang-orang lain yang dapat merek jadikan teladan atau pahlawan (hero), sebagai
pengganti orang tua atau orang-orang yang biasa menasihati mereka. Seandainya
yang menjadi hero tersebut baik, maka pengaruhnya juga baik tapi kalau
ia tidak baik, maka pengaruhnya juga kurang baik.
Kecenderungan seorang remaja untuk ikut aktif dalam kegiatan agama
sebenarnya ada dan dapat dipupuk, asal lembaga keagamaan tersebut dapat
mengikut sertakan remaja dan member kedudukan yang pasti kepada mereka.
Kebijaksanaan pemimpin agama yang dapat menyadari bahwa remaja mempunyai
dorongan dan kebutuhan social yang perlu dipenuhi, akan dapat menggerakan
remaja itu ikut aktif dalam agama.
D.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Keberagamaan pada Remaja
Jiwa
Keagamaan kita juga mengalami proses perkembangan dalam mencapai tingkat
kematangan dengan demikian jiwa keagamaan tidak luput dari berbagai gangguan
yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya. Adapun berbagai macam
pengaruh terhadap perkembangan seseorang secara garis besar dibagi menjadi
pengaruh dari dalam (intern) dan pengaruh dari dalam (ekstern)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan jiwa seseorang :
1. Faktor Intern
a.
Kondisi Kejiwaan
: Seseorang yang mengidap schizophrenia[15]
akan mengisolasi diri dari kehidupan sosial di sekitarnya serta presepsinya
tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi. Hal yang sama berlaku
pula pada pengidap Phobia[16]
ia akan dicekam oleh rasa takut yang irasional. Sedangkan penderita infatil autism[17]
akan berprilaku seperti anak-anak karena, perkembangan dirinya akan tetap
seperti anak-anak meskipun usia nya sudah memasuki masa remaja atau dewasa
b.
Kepribadian :
Dalam kondisi normal secara individu manusia memiliki berbagai macam perbedaan
dalam kepribadiannya dan perbedaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan
aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Selain itu banyaknya gangguang
kepribadian yang salah satunya adalah berkepribadian ganda akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaannya terutama pengembangan dalam
keagamaan.
c.
Faktor Kognitif : mengacu pada remaja-remaja yang cara
berfikirnya masih abstrak dan menerima apapun informasi yang sampai kepadanya
tanpa mengolahnya. Mereka hanya mengkaji sesuatu hanya berdasarkan dasar-dasar
yang ada tanpa mendalaminya.
d.
Faktor Hereditas
: perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa
bersalah bagi orang yang melakukannya. Bila yang dilakukannya adalah sebuah
pelanggaran agama, maka akan timbul perasaan berdosa dan perasaan seperti
inilah yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya.
e.
Faktor Personal
: Faktor dari dalam diri seseorang yang sedang mencari identitas dirinya dan
perkembangan jiwa nya.
f.
Tingkat Usia
: Pada usia remaja saat mereka menginjak usia kematangan seksual yang
mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan mereka. Tingkat perkembangan usia dan
kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan yang
cenderung mempengaruhi terjadinya konversi
agama[18].
Bahkan pada usia adolesensi sebagai rentang umur tipikal terjadinya konversi
agama meskipun konversi cenderung dinilai sebagai produk sugesti dan bukan
akibat dari perkembangan kehidupan spiritual seseorang.
2. Faktor Ekstern
a.
Lingkungan Keluarga
: Konsep Father Image[19](citra
kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan pada dirinya berkembang
dari citra ayahnya . Lingkungan keluarga
menjadi Fase sosialisasi awal bagi terbentuknya jiwa keagamaan. Lingkungan
keluarga menjadi factor ekstern yang dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan
dalam diri individu. Maka dari itu keluarga menjadi penting untuk proses
pembentukan sikap pribadi, perbuatan yang akan dilakukan individu sehari-hari
diluar lingkungan keluarganya.
b.
Lingkungan Institusional
: Bukan hanya lingkungan keluarga yang dapat berpengaruh akan tetapi ada
lingkungan Institusional yang mempengaruhi perkembangan jiwa kegamaan antara
lain dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal
seperti berbagai perkumpulan dan organisasi, hubungan guru dan murid serta
hubungan antar teman dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan
tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh sebab pada prinsipnya
perkembangan jiwa keagaman tidak dapat dilepaskan dari upaya untuk membentuk
kepribadian yang luhur. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan
moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
c.
Lingkungan Masyarakat :Lingkungan
yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi
perkembangan jiwa keberagamaan sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam
tatanan nilai maupun institusi keagamaan. Keadaan seperti ini akan berpengaruh
dalam perkembangan jiwa keagamaan pada warganya.[20]
E.
Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama pada Remaja
Ada banyak metode-metode yang dapat digunakan untuk
membentuk nilai-nilai keagamaan pada Remaja[21],
antara lain :
1. Metode Penanaman Nilai Agama Sejak Dini
Rasulullah
bersabda bahwa setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orang
tuanyalah yang menjadikan dia majusi[22],
nasrani atau yahudi. Jadi jika anak ditanamkan nilai agama sejak dini maka
ketika dia menginjak usia remaja akan memiliki aqidah agama yang kuat apabila
lingkungan sekitarnya terutama orang tua memberikan stimulus positif. Ketika
dia menginjak usia dewasa maka dia akan lebih mantap pada aqidah agama yang
dipeluknya.
2. Metode Penanaman Nilai Agama pada
pembiasaan diri
Setiap orang
pasti memiliki kebiasaan yang dilakukannya secara terus menerus dan tanpa
disadari sehingga kadang-kadang orang berpikir mengapa melakukan kegiatan itu
sedangkan dalam pikirannya tidak ada niatan untuk melakukan kegiatan itu.Jadi
bagaimana membiasakan kebiasaan yang positif, hal ini dapat dilakukan apabila
lingkungan sekitar terutama orang tua menanamkan nilai-nilai positif sejak dini
sehingga hal itu dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
3. Metode Penanaman Nilai Agama Lewat
Pengalaman
Pengalaman
merupakan guru yang terbaik dari ungkapan ini dapat diambil kesimpulan bahwa
setiap orang itu pasti memiliki pengalaman yang berbeda dari pengalaman
tersebut metode ini mencoba menanamkan nilai-nilai agama lewat pengalaman.
Orang yang ceroboh pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah
dilakukannya dan seorang muslim sejati tidak akan terjeremus pada lobang yang
sama.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Anak-anak yang berusia
12 atau 13 tahun sampai dengan 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang
mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena
pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan
fisiknya.Perubahan Psikis dan fisik harus selalu dikontrol oeh kedua orang tua
atau lingkungan nya pada masa ini remaja mulai merubah pola pikir nya. Factor
yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaannya secara garis besar dibagi
menjadi factor yang datang dari dalam dan factor yang datang dari luar, antara
lain : tingkat usia, kepribadian, factor kognitif, factor hereditas, factor
kejiwaan dan factor personal. Sedangkan yang datang dari luar ada lingkungan
keluarga, institusional, dan masyarakat.
B.
Analisa
Menurut saya memahami
remaja itu tidak sulit akan tetapi ada dimana saat mood[23]yang
dimiliki anak remaja itu baik. Terkadang dalam perkembangan keagamaan banyak
dari remaja sekarang ini cenderung pola pikir nya mulai berubah mereka lebih
banyak mengedepankan mood mereka
dalam menjalankan ibadah-ibadah proses keagamaan.
lingkungan keluarga
menjadi awal dalam sosialisasi individu kedepannya, walaupun banyak faktor-faktor
dari dalam dirinya akan tetapi jika pembentukan dari kedua orang tua dan
kejadian apapun yang dilihat nya dilingkungan sekitar dan bertolak belakang
dengan hal yang sesungguhnya diinginkannya nya maka pada akhirnya cepat atau
lambat otak nya akan menstimulus atau membentuk semua itu dalam memori ingatan nya.
Remaja yang keadaan jiwa nya sedang terganggu akan berusaha mencari seseorang
yang paling tidak dapat mendengar keluh kesah nya. Nasib baik ketika orang itu
menunjukkan jalan yang baik untuk nya. Lalu bagaimana ketika orang itu
bermaksud lain ?maka dari itu dengan berbagai macam metode yang ada diharapkan
dapat membentuk pribadi-pribadi yang beriman, bertaqwa, kuat dan tangguh dalam
menghadapi segala permasalahan nya kelak dan kedepan nya. Semoga kita semua
menjadi pribadi yang mampu menghadapi berbagai permasalahan dengan baik tanpa
harus terjerumus di tempat yang tidak layak dan tidak kita inginkan nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ailah B Purwakania Hasan. Psikologi Perkembangan
Islami. Rajagrafindo Persada. Jakarta 2006
Bambang, Syamsul Arifin. Psikologi Agama. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008
Darajat,Zakiah.
Ilmu
Jiwa Agama. 1996. Jakarta: Bulan Bintang.
Syaikh M jamaluddin.Psikologi Anak
dan Remaja Muslim.Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2009
Zulkifli L, Psikologi Perkembangan,
Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 ,
[2] (Lat. Adolescere =
adultus = perkembangan menjadi dewasa)
[3] Masa dimana seseorang
telah dianggap bisa membedakan baik dan buruk menurut agama Islam
[4] Zulkifli L, Psikologi
Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 64
[5] Bahasa Latin dari
kata pubertas yang artinya menjadi berbulu
[6] Siti Rahayu Haditomo,
psikologi perkembangan, Gajah mada University Press, Yogyakarta 2006, Cet XVI
hlm 261
[7] Zulkifli L, Psikologi
Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 65
[8] Suatu alasan yang
biasa diberikan orang-orang tua di daerah Sumatera secara turun temurun
[9]salah satu dari
kelompok sosial yang dapat tercipta dalam lingkungan sekolah,lingkungan
masyarakat dan lingkungan yang lain
[10]Zulkifli L, Psikologi
Perkembangan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 , Cet VI, hlm 66
[11]suatu keyakinan
terhadap sesuatu yang tidak boleh dirubah oleh adanya akal rasio atau pendapat
/ ide-ide manusia
[12] Syaikh M jamaluddin,
Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2009 hlm 34
[14]keinginan
(hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu
(seperti pangkat, kedudukan)
[15] penyakit mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan
respon emosional yang buruk
[16] Suatu ketakutan yang berlebihan pada sesuatu
[17] gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang
membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup
dalam dunianya sendiri
[18]Perubahan agama yang
selama ini dianut
[19]Teori Perkembangan yang
dikemukakan oleh Sigmund Freud
[20]Bambang, Syamsul
Arifin, Psikologi Agama,
Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008.hlm .76-85
[22] Suatu agama atau
kepercayaan yang mengagungkan api sebagai sembahan
[23] keadaan emosional yang bersifat sementara, bisa berlangsung
sebentar ataupun cukup lama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar